Disclaimer: Semua tokoh pemuda di Kolom Biografi Tokoh Pemuda Indonesia disaring berdasarkan jejak langkah sang tokoh terlepas apakah tokoh yang ditampilkan di kolom ini sudah berusia tua ataupun sudah tidak lagi ada di dunia ini. Tokoh Pemuda bukan hanya berarti anak muda, tetapi pemuda Indonesia yang berprestasi di bidangnya.
Rasanya tak ada sosok yang lebih dikenal yang menjadi bagian Metro TV selain tokoh pemuda yang satu ini. Dialah Andy F. Noya, pemuda kribo dengan tawa yang unik. Mungkin hanya satu hal yang kurang diketahui masyarakat tentang tampilan Andy F. Noya secara umum, yaitu kepanjangan dari huruf F ditengah namanya
Entah apa sebab musabab dan hubungannya dengan salah satu kepulauan di Indonesia, ternyata huruf F ditengah nama Andy adalah singkatan dari Flores. Jadi nama lengkapnya Andy Flores Noya.
Andy Flores Noya lahir di Surabaya, 6 November 1960, dan menamatkan pendidikan dasarnya di Malang. Selepas tamat dari Malang, ia harus mengikuti sang ayah ke Jayapura. Mungkin, sekali lagi mungkin, di kota barunya inilah ia mendapatkan rambut kribo khas penduduk Papua yang tetap setia ia pajang hingga saat ini
Di Jaya Pura Andy dipaksa masuk ke Sekolah Teknik. Pasalnya, ayah Andy melihat gambaran bahwa Andy takkan punya biaya tuk bisa merasakan bangku kuliah karena kesusahan yang melilit kehidupan mereka. Karena sudah dipilihkan untuk bersekolah di ST maka Andy menyambung pendidikannya ke Sekolah Teknik Menengah (STM) Jaya Pura.
Sebenarnya bersekolah di ST dan STM tidaklah sesuai dengan minat Andy. Sebab itu ia seperti kelinci putih nan imut ditengah kerumunan kucing. Bagaimana tidak, ia suka dunia sastra tetapi bersekolah di jurusan teknik mesin.
Ada yang pernah baca cerpen berjudul Matinya Montir Mesin Tik? Itu salah satu judul cerpen karya Andy F. Noya sewaktu di STM. Dan bukan hanya itu, puisi-puisi Andy selalu dibacakan di RRI Papua dan cukup banyak tropi yang ia dapatkan dari berbagai perlombaan seni dan sastra.
Namun, pada tahun 1978, jejak langkahnya di Jaya Pura harus berakhir seiring kepergian Ayah tercinta. Andy muda sangat merasa kehilangan sosok pelindung dan penopang keluarga sekaligus sahabatnya.
Selepas itu Andy hijrah ke Jakarta untuk mengikuti sang kakak yang tinggal di gang sempit dan bersuamikan seorang pelaut. Sekali lagi, kehidupan pas-pasan harus di hadapi pemuda ini.
Di Jakarta Andy melanjutkan sekolahnya di STM 6 dan lulus dengan predikat lulusan terbaik. Prestasi ini menjadikannya salah seorang pelajar peraih beasiswa dan diterima berkuliah di IKIP Padang dengan catatan harus bersedia menjalani ikatan dinas. Bayangan pasti jika menerima beasiswa itu, ia akan menjadi guru STM!
Inilah saat-saat krusial akan masa depannya. Di titik ini ia harus memilih jalan hidup. Ia teringat ucapan seorang guru di STM Jaya Pura dan STM 6 Jakarta yang mengatakan bahwa seharusnya Andy menjadi wartawan. Lalu ketika sedang membaca sebuah majalah, Andy menemukan informasi tentang sekolah untuk menjadi wartawan. Kejadian ini menjadi poin penting dan meyakinkan Andy untuk membuat keputusan bahwa jurusan teknik mesin bukanlah dunianya dan tawaran beasiswapun di tolak.
Keputusan itu membawanya ke gerbang Sekolah Tinggi Publisistik (sekarang Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) dan mencoba peruntungan disana. Namun, dikarenakan aturan bahwa pelamar berijazah STM tidak diterima maka permohonan Andy di tolak.
Tapi karena memang ia pemuda yang gigih dan tekadnya untuk menjadi wartawan sangat tinggi, Andy memberanikan diri untuk menemui Rektor STP saat itu, Ali Mochtar Hutasuhut. Kepada Ali Mochtar Andy mengungkapkan keinginan besarnya. Sang rektor pun menyerah dan memberi kesempatan pada Andy untuk ikut tes masuk tetapi dengan syarat ia harus memiliki surat rekomendasi dari Dirjen Pendidikan Tinggi dan prestasinya harus bagus. Jika tidak, ia akan dikeluarkan dari STP. Dengan kecerdasan mumpuni, tekad luarbiasa, dan sedikit tangisan sang ibu yang memohon untuk masa depan anaknya, akhirnya Andy diterima di STP.
Di sebuah situs Andy pernah bercerita “Aku ambil kuliah siang. Pagi harinya aku membantu Kakak mengurusi 2 keponakanku yang masih kecil-kecil. Maklum, aku kan ngenger, numpang hidup pada Kakak. Tak mungkin aku hanya ongkang-ongkang kaki. Jadi, pagi-pagi aku sudah bangun. Memandikan, membuatkan sarapan, lalu mengantar ponakan ke sekolah. Setelah itu, aku kembali ke rumah. Ngepel, cuci baju, lalu cuci piring. Kemudian berangkat lagi menjemput keponakan pulang sekolah. Sampai di rumah, aku menyuapi mereka makan siang. Beres semuanya, aku mandi, makan, baru berangkat ke kampus.
Namun, seperti yang sudah diduga sebelumnya, perjuanganku untuk kuliah cukup berat dan berliku. Saking tak mampunya, setiap minggu Kakak hanya memberiku pegangan uang 5 ribu rupiah saja! Itu harus cukup untuk transportasi, jajan, serta berbagai keperluan kuliah seperti fotokopi, beli buku, dan lain-lain. Aku pun memutar otak, bagaimana caranya bisa bertahan dengan uang yang hanya segitu. Alhasil, setiap hari aku harus adu nyali dengan kondektur bus. Tujuannya satu, bisa sampai di kampus dengan keluar uang sedikit mungkin.
Busana wajib saat naik bus adalah jins belel yang robek-robek, sepatu butut, dan kaos oblong atau jaket. Maksud hati supaya terlihat sedikit sangar. Saat kondektur menagih ongkos, aku diam saja, pasang tampang cuek. Tahan-tahanan. Kalau nasibku sedang baik, sang kondektur “ngalah” dan aku bisa bertahan di atas bus hingga sampai tujuan. Tapi, kalau sang kondektur naik pitam dan membentak, buru-buru aku turun di halte terdekat, pindah ke bus di belakangnya. Hahaha…”
Di tahun ketiga kuliahnya, tepat sesusai ia lulus ujian sarjana muda, masa-masa sulit semakin merajalela. Kakaknya tak mampu lagi membiayai karena keponakannya semakin besar dan juga butuh biaya. Tapi memang dasar pemuda yang pantang menyerah pada keadaan, Andy pun mencoba melamar ke majalah Tempo. Tanpa di duga, ia diterima dan ditempatkan sebagai reporter buku Apa & Siapa.
Selepas menamatkan kuliah dengan menjalani semua kesulitan hidup, Andy bekerja di harian ekonomi Bisnis Indonesia (1985), Andy diajak bergabung oleh Lukman Setiawan, pimpinan di Grafitipers, salah satu anak usaha Tempo. Andy pun tercatat sebagai 19 reporter pertama di harian itu. Dua tahun di Bisnis Indonesia, Andy diajak oleh Fikri Jufri, wartawan senior Tempo, untuk bergabung ke majalah Matra yang baru diterbitkan oleh Tempo. Lalu pada tahun 1992, Surya Paloh, pemilik surat kabar Prioritas yang waktu itu dibreidel, mengajaknya bergabung di Media Indonesia.
Pada tahun 1999, bersama wartawan senior Djafar Assegaff, Andy diberi kepercayaan untuk membenahi masalah di RCTI. Ia harus menyelesaikan proses transisi ketika keluar aturan bahwa PT Sindo yang merupakan anak perusahaan diharuskan bergabung dengan RCTI sebagai perusahaan induk. Dan disini ia menjabat sebagai pemimpin Seputar Indonesia.
Lalu ketika Metro TV mendapatkan izin siaran pada tahun 2000, Surya Paloh memanggilnya kembali dan dipercaya sebagai pemimpin redaksi. Tiga tahun berkarir di Metro TV Andy kembali ke Media Indonesia dan juga menjadi pemimpin redaksi. Pada tahun 2006, saat pemimpin redaksi Metro TV, Don Bosco, mengundurkan diri, Andy yang sudah menjadi wakil pemimpin umum di Media Indonesia, diminta merangkap jabatan sebagai pemimpin redaksi Metro TV.
Tahun berselang, Andy pun dipercaya menjadi Host salah satu acara Talk Show yang nama acaranya diambil dari namanya sendiri, Kick Andy.
Itulah Andy Flores Noya, seorang pemuda luarbiasa, bertekad kuat dan pantang menyerah. Jerih payah itu sudah terbayar, kesusahan hidupnya pun pudar.
Kini Andi F. Noya menjadi idola jutaan pemuda Indonesia yang berharap menjadi seperti dirinya atau paling tidak mendapatkan kesempatan untuk bertemu pemuda kribo dengan tawa unik yang selalu membawa kejutan berbonceng bahagia.
Sumber : kolompemuda.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar