Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan
ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan
diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang
Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan
barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya
petunjuk.
Berikut ini akan kami paparkan sebuah tulisan tentang para pemuda
muslim. Yakni, mereka yang sedang melakukan jalan spiritualnya dalam
mencari Allah. Pemuda pada umumnya menyenangi party-party,
senang-senang, foya-foya atau semacamnya. Namun, beberapa dari mereka di
dalam masa hidupnya tiba-tiba menemukan sesuatu yang bisa mencerahkan
hati mereka. Akhirnya, mereka pun mulai serius dalam menimba ilmu
agama.
Pada saat mereka mulai menimba ilmu Islam, dan mereka akan menjadi
sangat serius. Mereka mulai dengan menemukan guru, kadang guru mereka
adalah seseorang yang berilmu, kadang guru mereka sebuah video di
Youtube, kadang guru mereka sebuah rekaman kajian, kadang juga guru
mereka sebuah website. Intinya mereka merasa menemukan sesuatu yang
menggairahkan. Namun, kadang ada hal buruk yang terjadi pada mereka,
yakni mereka menjadi merasa aneh ketika melihat ke sekitar mereka,
mereka jadi merasa berbeda dengan mereka, dan merasa apa yang ada di
sekitar mereka tidak sesuai dengan apa yang seharusnya, mereka merasa
apa yang mereka lihat tidak sesuai dengan yang diajarkan. Mereka
“Mengerti tentang Islam”, tanpa mengerti “Siapa saya” sebelumnya.
Akhirnya mereka merasa stress kepada orang yang ada di sekitar mereka,
terutama keluarga mereka. Tidaklah perlu mengambil contoh dari mereka
yang keluarganya berasal dari Non-muslim, tapi ambil saja dari mereka
yang berkeluarga dengan muslim. Dan mereka ini akan berubah menjadi
kaku dan keras. Setelah keluarga, hal ini akan menjalar ke arah
“Teman”. Ya, mereka akan menjadi orang yang keras, dan mulai berbeda
pendapat dengan teman-teman mereka. Karena mereka tidak menjalani
perjalanan spiritual yang sama dengan teman-temannya tersebut. Akhirnya,
mereka akan berubah menjadi kaku dan keras, dan tidak ingin
menoleransi apapun lagi. Akhirnya, mereka akan merasa yang paling
benar, sedangkan orang disekitar mereka adalah orang yang salah.
Ada banyak penyebab terjadinya hal ini. Pertama, mereka merasa sedang
melakukan “Amar ma’ruf Nahi Mungkar” yakni menganjurkan kebaikan, dan
mencegah kemungkaran. Mereka akan mulai memberi tahukan tentang
ayat-ayat, hadits-hadits, dan merasa mereka memberitahukan seseorang
sesuatu yang benar. Dan mereka luput memikirkan bahwa banyak sekali hal
yang terjadi selain apa yang mereka katakan. Mereka tidak
mempertimbangkan segala sesuatunya untuk mengeluarkan kata-katanya.
Coba anda pikirkan, misalnya ketika mereka yang dulunya seorang preman,
atau yang sejenisnya, lalu tiba-tiba belajar Islam, dan menjadi orang
yang religius, yang dulunya preman yang selalu menjadi pusat perhatian
orang lain, dan hal ini terus berlanjut ketika mulai serius, hal yang
mereka lakukan adalah menunjukkan ‘kelebihan’ mereka, namun dalam aspek
yang berbeda, yakni dalam hal-hal yang religius. Seakan-akan mereka
ingin mengatakan, “Orang lain tidak tahu apa-apa tentang Islam, saya
tahu banyak tentang Islam, biarkan saya menunjukkan bagaimana kita
seharusnya menjadi umat yang beragama”. Dan hal ini mulai membuat mereka
menjadi sombong dan egois tentang Islam. Mereka lupa, bahwa ilmu ini
ada agar kita semakin merendahkan diri kita, bagaikan padi makin berisi
makin merunduk. Dan mereka malah memperburuk nilai Islam, untuk
menunjukkan keegoisan mereka. Tapi, perlu kita ingat bahwa hal ini tidak
hanya terjadi di kalangan pemuda, tapi juga orang-orang tua.
Pernahkah anda berpikir, “Tanpa adanya saya, orang ini tidak akan
mungkin mendapatkan petunjuk, dsb”, jika anda pernah berpikir seperti
itu, maka anda akan berada pada masalah yang serius. Karena hal seperti
ini adalah penyakit. Mengapa? Coba anda pikirkan, ketika anda berpikir
seperti ini, ini berarti anda memikul beban keIslaman seseorang di
tangan anda seorang. Islam tidak membutuhkan orang lain lagi. Padahal
Islam ini adalah milik Allah, kita memang membutuhkan Allah, tapi Allah
tidak pernah membutuhkan kita. Hal ini penting untuk kita sadari.
Mirisnya, hal ini adalah hal yang ada pada dada-dada mereka yang
terlihat shaleh, berbicara layaknya orang shaleh, mereka adalah orang
yang berilmu. Mudah-mudahan Allah melindungi kita dari perilaku yang
demikian. Mengapa, karena mereka terlihat begitu dari luar, namun di
dalam terdapat egoisme. Terdapat penyakit dalam hati mereka. Namun,
percayalah, ketika kau melihat rendah kaum muslimin yang lain, tidak
peduli seberapa buruk mereka, maka ketahuilah di dalam hatimu terdapat
sifat kibr atau sombong. Padahal Rasulullah bersabda,
“Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya bagaimana jika seseorang menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)
Bahkan bisa jadi hal ini lebih buruk dari mereka yang melakukan maksiat
secara terbuka, seperti minum-minum, berjudi, dll. Mengapa? Karena
ketika mereka melakukan maksiat, maka hal ini mudah untuk mereka lihat,
tapi hal yang yang kami sebutkan diatas adalah hal yang tidak
kelihatan. Well, mereka yang melakukan maksiat sudah pasti dihukum.
Apakah mereka yang bersifat sombong merasa mereka tidak akan disiksa?
Tidak, mereka juga akan disiksa. Mengapa ini adalah masalah yang besar?
Karena kita tidak bisa merasakannya, karena hal ini adalah dosa yang
tidak mampu kita lihat dengan mata kepala kita.
Islam ini diturunkan untuk menjadi obat penawar untuk menyembuhkan diri
kita masing-masing. Kalau ada yang harus dirubah dan diperbaiki, maka
hal itu adalah diri kita, bukan orang lain, bukan organisasi lain.
Allah berfirman dalam surah At-Tahriim ayat 6:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”
Jadi perbaikan itu dimulai dari diri kita, lalu pada keluarga kita, bukan dimulai dengan berdebat pada orang lain.
Mudah-mudahan kita dihindarkan dari hal-hal yang demikian. Semoga dengan
adanya tulisan ini, dapat merubah kita ke arah yang lebih baik, dan
berusaha untuk menghilangkan rasa ego yang ada di dalam hati. Karena
tidak adalah artinya amalan yang kita lakukan, jika rasa ego ini tetap
ada dan membakar amalan-amalan yang ada.
Wa billahi taufiq wal hidayah
Penulis : Abuhanifah
Sumber : http://muda.kompasiana.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar